Ahlan Wasahlan

Senin, 02 Januari 2012

ஜ۩۞ Meminang Sang Pangeran ۞۩ஜ


Aku tahu, aku hanya seorang wanita
yang tugasnya menunggu sang pangeran
dalam penantian

kata mereka, kau yang berhak memilih
dan kami, perempuan, hanya bisa
menolak atau menerima lamaran

tapi, bolehkah kali ini aku yang memilih?
memintamu untuk menjadi yang terindah di hatiku?
kau tinggal bilang ya, atau tidak. mudah kan?

ah, mungkin benar, dunia sudah terbalik
atau bisa juga ini hanya rasa khawatirku
takut kalau Allah tidak menyisakan satu mujahidNya untukku

hahaha…dasar aneh!
bukankah Allah sudah berfirman
bahwa Dia menciptakan makhlukNya dengan berpasangpasangan?

tapi, aku juga ingin tahu rasanya
berbunga ketika lamaranku diterima
atau kecewa saat pinanganku ditolak
mungkin dengan begitu, aku bisa berbagi dengan kaumku
bagaimana sih sakitnya ditolak?
agar para akhawat tak gampang mengucap kata “tidak”
dengan alasan yang sengaja dibuatbuat :
masih ingin melanjutkan studilah
belum cukup umurlah
belum siap mentallah
kurang cocoklah!
dan entah apa lagi…

tapi, bagaimana cara meminangmu ya?
apa aku harus mengajukan proposal lebih dulu?
atau langsung datang ke istanamu dan
memohon agar kau sudi menerimaku menjadi permisurimu?
itukah yang kau mau?

“Huh, dasar tidak tahu malu!”
tibatiba terdengar teriakan dari jauh
“Wahai akhwat, DI MANA IZZAHMU?”

IZZAH?
kalian bertanya tentang IZZAH?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang malu mengungkap perasaannya
kemudian memendam cinta dan
mengotori hati dengan terus memikirkannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menyuburkan virus cinta di hatinya
dan membaginya pada semua ikhwan yang dikaguminya
dalam masa penantiannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menanti sang pangeran, namun ketika ia datang
si akhwat menolak dengan alasan tidak jelas?

di sanakah izzah bersemayam?

ataukah izzah ada pada diri seorang Khadijah
yang berterus terang meminta Muhammad untuk
menjadi nakhoda dalam bahtera cintanya?

ataukah izzah ada pada diri para bidadari yang
berebut ingin melayani Zulebid
yang rela meninggalkan istri tercinta
di hari pertama pernikahannya demi meraih syahid?

sungguh, kisah cinta yang agung dan suci
bukan cintacinta picisan yang ingin diraih
tapi jauh lebih tinggi!
cinta di atas segala cinta
yang tak kan habis cintaNya,
Allah!

di sana ada kejujuran, keterbukaan, kepercayaan,
ketulusan, keimanan, dan ketaqwaan
berbeda dari kisah Romeo dan Juliet
atau Layla dan Majnun yang berakhir tragis dengan
mati membawa cinta tak sampai
malang!

mungkin iya, aku tak seberani Bunda Khadijah
aku pun bukan bidadari yang tak dianugerahi rasa malu
karena ia memang diciptakan dan ditugaskan untuk melayanimu

tapi, jika aku boleh memilih
izinkan aku meminangmu sebagai kekasih
bukan untuk saat ini
karena mungkin waktuku tak cukup untuk menanti

tapi, nanti
setelah kumati…

Minggu, 01 Januari 2012

~ ~UNTUMU DUHAI KEKASIHKU ~ ~


Aku memang bukan seorang wanita berparas cantik ataupun kaya.
Aku juga bukan seorang wanita sedermawan khadijah,sesabar fatimah dan sepintar Aisyah.Aku hanyalah seorang wanita biasa yang penuh kekurangan.
Inilah aku apa adanya yang akan mencintaimu juga apa adanya.
Yang mencintaimu karena Allah.
Yang bersedia menemani sepinya hari-harimu.Yang sLaLu bersedia meLengkapi kekuranganmu,yang slalu ingin membantu kesusahanmu,yang sangat senang bila melihat kau merasa senang.Yang slalu akan bersedia menghangatkan dinginnya tubuhmu.Dan yang bisa kau jadikan selimut tidurmu

Aku ingin mencintaimu secara sederhana,tanpa harus menyusahkanmu,memberatkanmu,membebanimu.Aku ingin mencintaimu apa adanya tanpa harus diada-adakan.Aku ingin mencintaimu tanpa melihat kekuranganmu.Aku ingin juga mencintaimu sepenuh hati tanpa harus terpaksa.

tp Aku…Aku juga wanita yang ingin kau cintai seperti perasaanku yang ingin mencintaimu apa adanya.Maka cintailah aku seperti aku mencintaimu.

Aku ingin hidup bahagia denganmu bukan karena materi,bukan karena hal duniawi,bukan,bukan itu.

Aku ingin hidup bahagia denganmu karena kau bersyukur telah memiliki aku.Karena kau ingin melaksanakan perintah-Nya.Karena kau ingin menjauhi larangan-Nya.Karena kau ingin mengikuti sunnah kekasih-Nya,Muhammad SAW.

Maka bahagiakanlah aku karena Allah sekalipun Kita hidup kekurangan.Aku tidak ingin yang lebih darimu karena aku tidak ingin memberatkanmu dan karena aku ingin mencintaimu untuk saling melengkapi satu sama lain.

Duhai Lelaki idamanku yang jauh disana…

inilah curhatku,inilah hasratku dan inilah kalimat-kalimat cintaku kepadamu

BiLa keLak nanti Tuhan menghadiahkanmu untuk hidupku,kan kulayani engkau sepenuhnya,kan kujaga engkau dari sesuatu yang menyakitkanmu dan kurawat engkau kala sakitmu dan juga kupenuhi apa yang kau mau dariku bila aku mampu.

Tapi jangan paksa aku bila aku tidak mampu melakukannya.Aku ingin kau memahami aku yang juga ingin memahamimu sepenuh hati.

Aku,kamu dan kekurangan ini,pahamilah cintaku.
IniLah aku yang ingin mencintaimu,menyanyangimu,membahagikanmu dan melengkapimu.
IniLah aku dan tentang perasaan cintaku
IniLah aku dan surat CinTaku
unTukmu duhai Kekasihku
Aku Mencintaimu diJaLan ALLah...

Salam Santun Senyum Manis...
Uhibuki Fillah...

Sabtu, 31 Desember 2011

:::. Bila Aku Jatuh Cinta .:::


"Ya… aku jatuh cinta". Tanpa
ragu-ragu kalimat itu keluar dari mulutku. Menampar segala keangkuhan.
Menenggelamkan segala kesombongan. Menaklukan kepongahan diri sendiri..
sahabatku terperangah, tidak menduga aku jatuh cinta. Cinta yang tulus.
Cinta yang bening. Cinta yang apa adanya. Cinta yang tanpa syarat. Cinta
yang akan memberikan apa yang ada di hidupku demi mendapatkan cintanya.

"Bagaimana bisa engkau mencintainya?
Siapakah yang telah membuat engkau mencintainya?
Apa yang membuat engkau mencintainya?
Ia terus mengejarku dengan pertanyaan yang menunjukkan kebingungannya.
"Kepada yang …..". aku berhenti "Aku selalu jatuh cinta" lanjutku.
"Bukankah dia bukan orang kita. bukankah dia diluar golongan kita?". Ia masih tidak terima.

"saudaraku…
ketika lahir engkau hanya bernama bayi manusia. Tidak yang lainya, lalu
kedua orang tuamu ‘yuhawidaanika’, ‘wa yunasiraanika’,’ wa
yumajisaanika’. Bersukurlah karena engkau terlahir dari rahim seorang
muslimah, hingga tidak perlu susah mencari hidayah. Semenjak lahir di
telingamu telah bergema ‘ayat-ayat Allah’. Ayo nak kita meraih
‘prosperity’, meraih kesejahteraan, meraih ‘kesuksesan’.
Jangan
engkau duhai saudaraku mempersulit diri sendiri untuk meraih kesuksesan
dalam hidupmu dengan membatasi mengambil ilmu syar`i yang wajib dituntut
semua orang muslim.Memandang bahwa pendapat orang lain salah tanpa
mengujinya terlebih dahulu,tanpa mencari dalil terlebih dahulu,lalu
meyakininya …” Aku memandangnya. Mencari di wajahnya ‘reaksi’.

"kamu mencintainya, akan setia selalu kepadanya!! sudahkah katamu kau pikirkan.
Kata
itu berbahaya! Kata yang akan menyeret kamu untuk menganggumi apa saja
yang ada padanya. Dan bisa menjerumuskan dirimu untuk mengikuti
perintahnya meskipun perintah itu tidak engkau senangi atau bahkan sesat
dan menyesatkan engkau”. Ia masih membantah.

“Saudaraku… aku
setuju dengan pendapatmu. Bahwa kekaguman atas seseorang telah banyak
menyesatkan saudara kita yang lain. Terjerumus kepada ketundukan untuk
mengambil semua pendapat dari orang yang ia kagumi itu, tanpa
menyaringnya.
Asal perkataaan itu dari orang yang ia jatuh cinta
kepadanya – secara ke ilmuan – ia langsung ambil dan adobsi menjadi
bagian dari pendapatnya. Meskipun pendapat itu menyesatkan banyak
pemikiran orang yang jauh lebih benar dari orang yang ia cintainya itu.
Lalu menyebarkan pendapat yang salah itu ke tengah masyarakat.”

aku
kira banyak yang bisa menjadi contoh begitu banyak kaum muda muslim
Indonesia menjadikan mereka itu idola. Mengikuti seluruh pendapatnya
tanpa mengujinya dengan kritis. Menyebarkan Hermeneutikanya Nasr Hamid
dalam mengkaji al-qur’an untuk menggantikan metode tafsir salafus sholeh
kita. Yang akhirnya membawa mereka untuk mentekstualkan al-qur’an,
bahwa al-Qur’an hanyalah ‘Mumtaz tsaqofi’ atau hasil budaya manusia.
Bahkan salah seorang pengarang dalam - bukunya - sampai berani menyuruh
orang agar tidak menganggap al-Qur’an itu sakral. sebab al-Qur’an itu
hanyalah trik yang dibuat orang orang quraisy dengan tujuan agar
orang-orang Quraisy itu bisa menguasai zajirah Arab”.


“Mereka
yang mencintai habis kepada tokoh yang mereka kagumi kepandaiannya itu.
Dan tidak menyisakan cintanya kepada ulama’-Ulama' salaf dengan segala
keagungan kepribadian dan kebesaran karya tulisnya. Buta matanya – tidak
lagi ia gunakan untuk melihat bagaimana syahsiah tokohnya itu dibanding
dengan ahklak ulama’ ulama’ salaf dahulu. Sehingga Imam malik, imam
hanafi, Imam assyafi’I dan imam hambali tidak lagi dipakai. Dan
dimasukan lemari es lalu dikunci. Sudah mengarkeologi. sudah tidak
mungkin bisa diterapkan lagi untuk menyelesaikan permasalahan
kontemporer ummat Islam. Mereka bilang, bahwa ummat Islam akan tetap
terpuruk bahkan mati, jika tetap berada pada kesadaran masa lalu”

“saudaraku…
mereka itu generasi bingung! Generasi yang sudah kesusahan untuk
menemukan kebenaran. Kepalanya sudah terkontiminasi dengan filsafat.
Sehingga apa saja ingin mereka bongkar, termasuk syari’ah yang secara
nash merupakan kebenaran pun tidak lepas dari pembongkaran mereka.
Kepala mereka dipenuhi relativisme. Dengar aja mereka bicara... lalu
hitung berapa kali kalimat relative itu keluar dari mulutnya?"

“Ah..
itukan relative. Tergantung dari sisi mana anda melihat”, “Janganlah
suka menyalahkan, menghukumi, memfatwakan orang lain sesat dan lain
sebagainya. Siapa sebenarnya yang sesat si Aatau si B. Bisa jadi yang
sesat itu si A karena telah menghukumi orang lain dengan nama TUHAN. Apa
betul yang di fatwakan si A adalah apa yang diinginkan TUHAN. Siapa
yang berhak mengklaim paling tahu apa yang diinginkan oleh TUHAN.
Jangan-jangan si B lah yang betul dan fatwa si A yang sesat. Hargailah
kebebasan orang untuk mengekspresikan cara ia mencintai TUHANnya, tidak
usahlah saling menyesatkan”.

Lihat saudaraku.. betapa semuanya menjadi relative, tidak ada kebenaran yang bisa mereka pegang". Aku mengatur nafas.
berbicara tentang mereka ini terlalu menguras emosi.
sebenarnya
sih aku ingin berlatih untuk mencintai dan membenci, sekedarnya.
Secukupnya, seperlunya, mencintai dengan cinta yang sederhana.
membenci dengan kebencian yang sederhana.
namun rupanya untuk kelompok bingung ini, emosiku sulit terkontrol nich...!!
setelah kunikmati ekspresi saudara bandelku ini, aku teruskan penjelaskanku!

“kalau
kemudian aku mengatakan bahwa ‘aku mencintai Dia dan selalu akan
menuruti apa yang diperintahkan dan bahkan aku akan berusaha selalu
tidak melanggar larangannya . Masak kamu tidak percaya padaku..
bahwa
dalam hatiku ini ada cinta yang begitu menggebu . Insya Allah,
jelek-jelek begini saudaramu ini, bisalah membedakan mana yang baik,
mana yang tidak. Aku nih bukan termasuk ‘kelompok bingung’ mereka..
yakinlah bahwa kalimatku itu bisa aku pertanggung jawabkan insya Allah,
duh saudara … percayalah padaku..”

“Aku tidak percaya..”sahut saudaraku

Saudaraku,pernahkah engkau membaca atau mendengar sebuah bait syair ini,

``Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta…
Meskipun ia merasakan manisnya cinta…
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu…
Karena takut berpisah atau karena rindu…

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih…
Namun, bila kekasihnya dekat…
Ia menangis karena takut berpisah…

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan…
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba…
Pelakunya memang merasakan kenikmatan…
Namun, sebenarnya…
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati…

Saudaraku itulah perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam salah satu kitab beliau,
Tapi
saudaraku,percayalah, cintaku padanya tidaklah akan membawa
kesengsaraan,tidak akan membuat sakit hati dan aku sangat yakin bahwa
aku tidak salah jatuh cinta.
Dan aku juga yakin ,bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan cintaku.
Bahkan
aku sangat yakin dengan cinta dan kasih sayangnya,dan bahkan aku berani
bersumpah demi jiwaku yang ada di genggamaNya,janji-janji Dia semua
pasti akan di tepati.

Akhirnya dengan ekspresi wajah yang masih
menunjukkan kebingungannya,dia Cuma bisa mengangguk-anggukan kepalanya
.maka saudaraku izinkan aku untuk mengambil jeda walau sejenak untuk
membuktikan cintaku padaNya,aku akan berusaha melaksanakan perintahNya.
Saudaraku
maafkan aku bila suatu hari nanti aku lama tidak engkau temui,mungkin
engkau akan bertanya –tanya dalam hatimu,tapi saudaraku ,tidak usah
engkau cemaskan diri ini,insyallah aku akan baik-baik saja.
Saudaraku
,aku hanya mengharap doa mu semoga aku dapat meraih keridhoan dan
cintaNYa,dan di sini aku juga akan selalu berdoa untukmu saudaraku
semoga engkau juga akan seperti aku,mengharap ridho dan cintaNYa.

Setelah semua aku jelaskan akhirnya saudaraku ,engkau faham akan cintaku.
Kepada siapa sebenarnya cinta ini aku tambatkan.ya aku yakin engkau akan mengerti.
Dan
aku yakin engkau juga merasakan cinta yang sama denganku,bukan kah
begitu saudaraku?.Sehingga aku yakin bahwa aku tidak akan sengsara,dan
aku tidak akan kecewa dan bahkan tidak akan sakit hati.

Maka saudaraku marilah kita buktikan cinta kita kepada NYa
Ayo kita berlomba-lomba siapa yang paling baik pembuktian cintanya.
Semoga ,aku,engkau,dan kita semua akan di pertemukan di kautsarnya.
Amiin

Wallahu a’lam. Subahanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Konflik itu Indah, Jika...



Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...

Pendamping adalah tentang mendampingi yang berarti mengerti, melayani dan menjadi pelengkap serta penguat. Demikianlah peran penting seorang wanita dalam perannya sebagai istri. Tidak mudah memang, karena disisi lain seorang istri adalah juga seorang manusia, yang memiliki keinginan, harapan dan kebutuhan pribadi. Namun dalam rangka perannya dalam menjadi seorang istri yang harus bersinggungan dengan sesosok manusia yang ditakdirkan menjadi pemimpinnya, akhirnya terkadang hal ini memicu perselisihan.Hal ini dikarenakan, sang pemimpin atau suami, nyatanya juga memiliki sepaket sifat kemanusiaan sama seperti dirinya. Tapi poin tambahannya adalah, pemimpin ini memiliki hak kepemimpinan atas diri wanita tersebut.

Memang tidaklah mudah menghadapi kenyatan bagi sang wanita, bahwa dia harus menerima dirinya adalah seseorang yang harus dipimpin. apalagi jika ditambah ternyata sang istri ini adalah dibakati oleh sifat yang tidak mau kalah.

Tapi....

Bukankah pernikahan bukanlah tentang kalah dan menang, walaupun perannya adalah sebagai pemimpin ataupun yang dipimpin. Pernikahan adalah ladang amal yang dimana jikapun salah satu pihak harus mengalah demi kebaikan dan kedamaian semua, namun percayalah, tidak akan tersia- sia semua usaha itu. Kebesaran jiwa kita justru akan diuji, dan kualitas dari sebuah hati akan meningkat menuju yang lebih termuliakan.

Memanglah jika ego sudah turut campur dalam penyelesaian sebuah masalah, maka tinggallah menunggu saat kehancuran sebuah rumah tangga. Ya, itu hanya soal waktu saja.

Maka, cobalah rendahkan suara sejenak, dan lembutkan hati yang menggebu penuh emosi, kemudian sadarilah. Sebenarnya untuk apa anda menikah? apakah hanya sekedar untuk menghabiskan waktu dalam pertengkaran tanpa ujung, atau ladang perealisasian besarnya ego anda untuk menindas seseorang yang kemudian mau mengikuti dan membenarkan apapun langkah dan kemauan anda. Ataukah untuk beribadah kepada Allah?.

Jika memang jawaban anda adalah menikah bertujuan untuk ibadah, maka tanyalah pada diri sendiri tentang sebuah pertanyaan, apakah ada ajaran Allah yang memerintahkan anda untuk menjadi `pemimpin` yang menindas dan menyakiti `rakyat`nya ?. Dan atau jika anda adalah seorang istri, apakah ada perintah Allah yang menganjurkan anda untuk durhaka kepada suami?

Maka sadarilah, pernikahan adalah bukan untuk sebuah kesakitan, namun sarana menuju sebuah melengkapi separuh jiwa anda yang terserak. Dan suami anda adalah cerminan dari diri anda. Allah yang menyatukan sepasang suami istri, jadi pastilah terkandung maksud Allah untuk membaikkan kedua orang tersebut. Dan ini hanya berlaku bagi pribadi yang merasa tahu diri dengan kekurangannya. Dan hal ini tidak berlaku bagi siapapun yang tetap menganggap dirinya sebagai seseorang yang selalu benar. Allah tahu ukuran kita, dan cara terbaik membaikkan diri kita, dan lewat pasangan kita lah, kita belajar kebaikan dan cara terbaik membaikkan diri kita.

Ketika ternyata sang suami adalah seorang pemarah, maka disanalah anda dilatih oleh Allah untuk menjadi pribadi yang sabar. Atau jika ternyata sang istri adalah seorang yang susah diatur, maka disanalah skenario cantik Allah untuk melatih anda menjadi sosok pemimpin yang bijak namun tegas. Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu kebaikan sebuah sifat yang baik, sampai akhirnya Allah mengirim pasangan kita tersebut lengkap dengan apapun kekurangan dan kelebihannya. Maka apapun dan bagaimanapun sikap dan sifat pasangan anda sekarang ini, anda patutlah berterima kasih atas pelajaran yang menjadikan anda lebih baik sekarang ini.

Dan jika mungkin konflik itu telah menjadi bagian dari hari- hari anda, karena susahnya pelepasan sebuah ego, kepentingan dan kesukaan masing- masing, maka maafkanlah. Maafkanlah diri anda yang ternyata begitu keras, lantas ikuti dengan action untuk melembutkan hati anda. Dan maafkanlah pasangan anda, karena jika anda tidak belajar untuk memaafkan, maka susah bagi anda untuk mengerti dan memahami kedalam sebuah ikhlas. Ikhlas yang hanya karena Allah. Bukankah anda menikah untuk tujuan beribadah kepada Allah?.

Hindarilah konflik dengan pasangan anda, namun bila akhirnya harus terjadi, maka indahkanlah. Indahkanlah dengan kesadaran atas sebuah pembelajaran berharga yang terpetik darinya. Ya, paling tidak satu lagi daftar kekurangan masing- masing telah sama-sama terkuak dan terperbaiki. InsyaAllah.

Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA

music